Selasa, 27 November 2012

Risalah untuk Pecinta Ahlul Bait




Kami (penulis –red) menerbitkan risalah ini dengan judul “Risalah (catatan penting) kepada para pecinta ahlul bait” di mana kami ambil isinya dari sumber-sumber syiah terpercaya, karena pada dasarnya syiah juga sama dengan manusia lain, ada yang berakal sehat dan berfikir positif, masih mencintai kebaikan dan senang dengannya, sehingga jika kebaikan itu ditawarkan kepadanya dengan ijin Allah ia akan bisa menerimanya. Meski tidak bisa menampik fakta bahwa mayoritasnya adalah para Fanatis dan pengikut ekstrim yang lebih mengedepankan hawa nafsu daripada kebenaran, dia membekukan akal sehatnya demi perintah hawa nafsu untuk bertaklid buta kepada orang lain tanpa ada sedikitpun bashirah, ilmu, dan dalil dari Allah Azza wa jalla.

Berikut ini kami sajikan kepada Anda catatan penting dan poin inti dari risalah kami :

1.      Syiah menganggap bahwa tidak ada hubungan yang terjalin antara keluarga Nabi dengan para sahabat dan keluarga Quraisy lainnya selain daripada hubungan permusuhan, kebencian dan konflik belaka. Pernyataan itu termuat dalam kitab-kitab mereka (pembahasannya dalam artikel selanjutnya, insya Allah –red). Jika persepsi itu memang benar lalu apa inti di balik pemberian nama serta jalinan hubungan pernikahan antara keluarga Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya dan orang-orang sesudah mereka???

Ada di antara anak-cucu keturunan Ali bin Abi Thalib yang diberi nama dengan nama sahabat, terkhusus Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Thalhah. Ada yang bernama Abu Bakar bin Ali ada pula bernama Abu Bakar bin Al Hasan As Syahid, mereka gugur bersama Al Husain radhiallahu ‘anhu (Al Irsyad Al Mufid, hal 186 dan 248). Lalu Abu Bakar bin Al Hasan kedua bin Al Hasan cucu Nabi dan Abu Bakar bin Musa Al Kazhim.

Nama Umar banyak sekali dimiliki oleh keluarga Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, bahkan nama ini berlanjut hingga 18 generasi dari keturunan Al Hasan dan Al Husain. Di antara anak cucu tersebut adalah Umar Al Athraf bin Ali (Kasyful Ghummah fi Ma’rifatil A’immah 2/66), Umar bin Al Hasan bin Ali (dia terbunuh bersama Al Husain), Umar bin Husain Asy Syahid, Umar Al Asyraf bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain bin Ali, Umar bin Ali Al Ashghar bin Umar Al Asyraf bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain.

Utsman pun demikian, di antaranya Utsman bin Ali bin Abu Thalib (terbunuh bersama saudaranya Al Husain), lalu Utsman bin Yahya bin Sulaiman salah satu cucu Ali bin Al Husain rodhiallahu ‘anhum jami’an.

Kemudian nama Thalhah di Ahlul Bait adalah Thalhah bin Al Hasan cucu Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu Thalhah bin Al Hasan ketiga bin Al Hasan kedua bin Al Hasan cucu Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Nama Aisyah juga ada dalam Ahlul Bait, di antaranya Aisyah binti Al Imam Ja’far bin Musa Al Kazhim, Aisyah binti Ali Ar Ridha, Aisyah binti Ali Al Hadi, Aisyah binti Muhammad bin Al Hasan bin Ja’far bin Al Hasan kedua.

Bukankah mereka adalah Ahlul Bait yang harus menjadi teladan orang syiah di semua lini? Apakah mereka orang syiah berani memberi nama anak lelakinya Abu Bakar, Umar, atau Utsman, dan beranikah dia memberi nama anak perempuannya dengan Aisyah???
 
Pertalian hubungan pernikahan dan nasab juga terjalin antara Ahlul Bait dengan sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Misalnya Ummu Kaltsum binti Ali bin Abu Thalib menikah dengan Umar bin Khatthab (Al Kulaini dalam Al Kafi Fi Al Furu’ (6/115), At Thausi dalam Tahdziibul Ahkam Juz 8 Hal 148), Fathimah binti Ali bin Abu Thalib menikah dengan Al Mundzir bin Ubaidah bin Az Zubair, Sakinah binti Al Husain As Syahid menikah dengan Mush’ab bin Az Zubair, Ruqayyah binti Al Husain menikah dengan Amru bin Az Zubair, Fathimah binti Al Husain As Syahid dengan Abdullah bin Amru bin Utsman bin Affan, Ummul Hasan binti Al Hasan cucu Nabi menikah dengan Abdullah bin Az Zubair, Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib menikah dengan Hafshah binti Abdur Rahman bin Abu Bakar.

Al Hasan bin Ali menikah dengan Ummu Ishaq binti Thalhah bin Ubaidillah kemudian ketika Al Hasan meninggal dunia dia berwasiat kepada saudaranya Al Husain agar menikahi Ummu Ishaq setelahnya, hingga kemudian Al Husain menikahinya dan lahirlah Fathimah. Muhammad Al Baqir menikah dengan Ummu Farwah binti Al Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, hingga lahirlah Al Imam Ja’far As Shadiq.

2.      Kita temukan kaum Syiah bertaqarrub kepada Allah dengan cara mencela para sahabat terkemuka Nabi, terutama tiga Khulafa’ Ar Rasyiidun (Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan) sementara TIDAK kita temukan seorang sunni yang mencela satu pun dari Ahlul Bait, bahkan kaum Sunni bertaqarrub kepada Allah dengan mencintai Ahlul Bait dan hal tersebut tidak bisa diingkari atau bahkan didustakan oleh kaum Syiah sendiri.


*Disadur dari kitab Risalah ila muhibbi Ali al-Bait, ditulis oleh Tim Peneliti dan Kajian Dar al-Muntaqa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar